Kadang memang tak perlu menangis ketika sedih, atau tertawa ketika sedang gembira. Simply diem nginyem ayem-ayem adang cukup berguna. Apalagi ketika ada sedih di antara kesenangan, dan ada senang di antara kesedihan. Dalam hidup memang selalu ada dua. dua sisi mata uang kata orang. sisi yang saling bertolak belakang meskipun dalam sekeping uang. Aku menemukannya di sini. di sarangku yang baru. sarang yang terletak di ujung pohon rapuh dan sudah melepuh di sana-sini. meski baru, tapi sudah bolong sana-sini. Aku hanya bisa termangu, ketika tubuh-tubuh yang beranjak dewasa itu bergelimpangan di atas jerami tipis. sekadarnya. kadang tertekuk karena hawa dingin yang menerobos lewat bawah dahan dan ranting. berselimut daun tua warna coklat, yang juga terpakai untuk penutup alas mereka. air mataku tak terbendung saat ciap mereka yang bahagia dalam sarang ini terdengar telingaku yang keras nan tebal ini. kau tau, andai ada penilaian dari juri, mungkin aku adalah bapak yang tak layak. bapak yang cuma bisa menghentak. tak mampu bertindak. maksudku, aku memang bertindak tapi tak cukup layak buat mereka.
tapi aku juga tersenyum bahagia, saat mereka membuktikan diri mereka adalah keturunan phoenix si burung api. yang tau mereka terhalang tembok maha tinggi, tapi tak gentar jua. aku tau dalam hati mereka menjerit dan menangis, mempertanyakan mengapa mereka harus menelan ludah melihat burung-burung lain berbulu warna-warni. sedang mereka hanya merah dan berlumur darah dan getah. tapi mereka simply menyimpannya dalam hati rapat-rapat, tak kuasa membuat orang tuanya bercucuran air mata.
Kemaren aku rebah dihadapan mereka bertiga, bergulingan penuh ratap. si phoenix tua ini memohon kesabaran mereka dalam menghadapi semua dalam hidup. tau apa komentar mereka? ‘ahhh, bapak memang konyol, gila, dan pervert luar biasaaaa … tapi tak ada orang lain di dunia ini yang sanggup jadi bapak buat kita. cuma bapak satu-satunya.’
dan aku tersenyum bahagia, sambil melelehkan air mata. apalagi saat bulan depan sarangku terancam musnah tak berbekas. tapi aku kan bapak paling konyol se dunia, kan. let see, apa aku mampu menambal sarangku dengan seroihan jerami baru atau justru membakarnya dengan api abadiku.
kutulis iniĀ dengan lelehan air mata, dan senyuman yang selebar-lebarnya.
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
