Ketika:
Raga terbelah empat
Jiwa terbelah sembilan
Nyawa lepas satu-satu
Mata nyalang delapan
Kau ingat, kawan?
hari-hari yang kita lalui
yang penuh dengan omelan?
aku rindu itu
Kau ingat, teman?
sisi-sisi kanan-kiri yang dulu berhimpitan
gesek-gosok saling-silang
aku tak dapatkan lagi
yang mengaku punya roh
kini tanpa nyawa
yang mengaku punya jiwa
kini tak berkasta
yang tersisa cuma ludah beku
lidah kelu dan impian yang tersita
tak lebih dari sekedar asap menghitam
yang tak kunjung punya labuhan
aku kelu … aku bisu …
sementara jiwa-jiwa terluka disekitarku
mereka jadi seribu
aku lewatkan pertemuan janji putih sahabatku
tak lebih karna aku tak berwujud
masakah aku hadir dalam bayang semu?
maafkan aku sahabatku
kalau kau tanya
mengapa aku berlari ke arah yang tak pasti
hey! aku ingin menghadapi dunia!
aku maju perang, kawan
meski peluru hanya tinggal satu
dan napas separuh lagi
kalau kau tanya
mengapa napas tinggal separuh
hey! itu … semua itu … ehhh …
aku jual separuhnya untuk beli peluru
meski peluru hanya dapat separuh
karna aku kehabisan napas memanggulnya
tampaknya aku bakal mati lama
lama sekali
l a m a
l a m a s e k a l i
yang ku ingat kini hanya imaji sahabatku satu lagi
dulu ia pamit padaku untuk menumpuk peluru lebih lagi
untuk kami berperang bersama dengan amunisi buaaanyak lagi
sudah sewindu dia pergi
kuharap dia kembali
sion dot net 22 agustus 2008
sebelum ngembat sebungkus mie goreng instan, segelas kopi manis,
dan 2 batang rokok LA Menthol sisa kemarin …
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
